Pesantren Al-Qosimiyyah
 
Pesantren Al-Qosimiyyah
 
 
 
 
Profil

Lintas Sejarah

                                       SUNAN DRAJAT (R. QOSIM)

 

Rasulullah SAW telah membawa agama Islam sebagai Rahmatan lil ‘alamin (Rahmat bagi alam) dan ajarannya mendorong kegiatan pemeluknya untuk mewujudkan kemaslahatan dan kesejahteraan hidup lahir batin di dunia dan akhirat.

Pesantren selain sebagai lembaga pendidikan dan dakwah untuk melanjutkan misi Rasulullah , juga berperan sebagai lembaga perjuangan dan pengabdian serta layanan masyarakat yang banyak memberikan sumbangan untuk pembangunan bangsa, perlu dipertahankan dan dilestarikan keberadaannya selaras dengan cita-cita bangsa Indonesia dalam rangka membentuk insan muslim yang beriman, bertakwa, berilmu, beramal, ikhlas dan berakhlakul karimah.

Pesantren terbukti telah diterima oleh masya-rakat Indonesia sebagai pengayom dan rujukan dari setiap keperluan, umumnya menyangkut kemaslahatan umat, khususnya pada dimensi nilai, moral dan spiritual. Karena Sunan Drajat dan Keturunannya dari generasi ke generasi tiada henti untuk berdakwah melalui pendidikan Pondok Pesan-tren. Diantanya adalah:

1. KH. Abdul Karim 

Lahir, 11 Syawwal 1245 H/14 April 1830 M-wafat 27 Dzulhijjah 1313H/8 juni 1896 M. Adalah salah satu keturunan Sunan Drajat dan datuk pendiri yayasan yang  banyak berdak-wah di daerah Gresik, Lamongan, Tuban, Surabaya dan sekitarnya. Beliau bersama istri tercinta, Nyai Mas Amiroh dan putra beliau yang hafizh al- Qur’an KH. Muhammad Zahid mendirikan Pesantren Tebuwung Dukun Gresik. KH. Abdul Karim  ini mengkader anak, keturanan dan  santri beliau memperjuangkan agama Allah SWT melalui Pondok Pesantren.

2. KH. Muhammad Zahid

Wafat 13 Jumadil akhir 1331 H/18 mei 1913M. Pernah belajar dan mengajar di Makkah al-Mukarromah KH. Muhammad Zahid menjadikan Pesantren Tebuwung menjadi sentral agama Islam di daerah Gresik, Lamongan, Tuban, Surabaya dan sekitarnya. Dan menjadi pesantren penghafal al-Qur’an pertama kali di Gresik. Beliau Mengasuh PONDOK PESANTREN TEBUWUNG DUKUN GRESIK selama 17 tahun (1896-1913)

3. KH. Muhammad Munawwir al-Qosimi

Setelah menimba ilmu di ramanda KH. Muhammad Mawardi (Pondok Pesantren Tebuwung Dukun Gresik Jawa Timur) dan beberapa ulama di  Jawa Timur, seperti :  KH. Ahmad Idris Marzuqi, KH. Anwar Mansyur, KH. Ma'shum Jauhwari, KH. Imam Yaya Mahrus Ali, KH. Abdullah Kafabihi, KH. Mahruf di Ponpes Lirboyo Kediri: KH. Abdullah di Ponpes Bustanul Hidayah, Pulosari, Papar Kediri: KH. Ahmadi al-Kincani di Ponpes Roudhotul Ulum Utara, Kwagean Pare Kediri: KH. Abdul Hannan Ma’shum di Ponpes Miftahul ‘Ulum Kwagean Pare Kediri: Hadhrotusy Syaikh Al-Mursyid KH. Ahmad Asrori al-Ishaqi di Ponpes al-Fithroh, Kedinding Surabaya

Secara khusus KH. Abdul Hadi (Ponpes. Banjarwati Paciran Lamongan), berpesan, “Hijrahlah ke Jakarta! Lanjutkan  dan bawa nama harum Mbah Sunan Drajat (R. Qosimi), mengingat kamu bernasabkan kepada beliau. Insya Allah kamu akan berhasil dan sukses. KH. Ahmad Idris dan KH. Abdul Hanan Ma'shum kemudian memperkuat dan menganjurkan hijrah ke Jakarta

kemudian berhijarah ke Jakarta dengan meyakini firman Allah SWT:"Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapat di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barang siapa ke luar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai  ke tempat yang dituju), Maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah, dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (An-Nisa':10)

Untuk  sementara waktu tinggal  di rumah karibnya sewaktu menimba ilmu di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Ustadz H. Ahmad Tsawban (Pancoran Jakakarta Selatan).

Dalam pertemuan beliau dengan KH. Ahmad Asrori al-Ishaqi di LIPI, beliau  dianjurkan untuk istiqomah dan berjuang terus. Ini juga didukung mantan ketua LIPI yang berasal dari Gresik. Prof. Dr. Sufyan Tsauri.

Setelah melalui proses panjang Abuya Nawwir muda mulai berdakwah di daerah Kebon Jeruk Jakarta Barat sebagai juru dakwah, guru mengaji al-Qur'an di berbagai instansi se-JABODETABEK dan membuka Majlis Ta’lim Sunan Drajat  yang banyak dihadiri jama’ah. Diantara yang pernah mengajai secara langsung kepada beliau adalah Irjen Abu Bakar Nataprawira (Mantan Kadiv Humas Polri dan H. Marsudi Murtodiharjo (pemilik Rs. Sarih Asih) 

Setelah menikah, tambah giat berdakwah. Disamping menjadi konsul-tan spiritual, yang banyak didatangi dari Luar Negeri, seperti Malaysia, Singapore, Perancis dan lain-lain. 

Untuk mendirikan Pondok Pesantren  yang baik dan berkah, beliau mencari-cari tanah di Bogor (Parung atau Kranggan). Untuk itu beliau meminta istikhoroh KH. Abdul Hannan Ma’shum. "Yang di Kampung Tajur Pemagarsari Parung Bogor itulah yang akan membawa keberkahan, " kata KH. Abdul Hannan Ma'shum.”

Beliau akhirnya membeli rumah di desa ini  dan pada tanggal 1 Muharram 1429 (9 Januari 2008) rumah ditempati. Setelah beberapa hari diajaklah  istri, Nyai Hj. Lia Suraedah dan putra beliau,  Gus Muhammad  al-Qosimi (Gus Am).

Di rumah baru ini diselenggarakan TPQ al-Qosimiyyah dan seminggu sekali di diselenggarakan Majlis Dzikir dan Majlis Ta’lim yang banyak dihadiri kaum ibu.

Ramanda KH. Muhammad Mawardi dan ibunda Nyai Hj. Hasanatun yang tinggal di Gresik menganjurkan Abuya Nawwir untuk membeli tanah dari uang sendiri yang bisa digunakan sebagai basis awal  untuk melanjutkan perjuangan datuk beliau, Sunan Ampel dan Sunan Drajat

Beliau  kemudian membeli tanah seluas 1000 M2 di sebelah utara rumah beliau dengan jarak + 100 M dan diatasnamakan Ramanda beliau, KH. Mawardi dan kemudian diwakafkan untuk Pesantren al-Qosimiyyah

Pada tahun 2009 bersama istri, beliau menunaikan ibadah haji dan senantiasa bermunajat kepada Allah SWT di hajar aswad, multazam, hijir Ismail, Roudhah, Mihrab Rasulullah Saw dan lainnya  agar dimudahkan untuk memperjuangkan agama Allah SWT .

Pesantren Modern Al-Qosimiyyah 

Pesantren ini pada awalnya bernama PONDOK PESANTREN AL-QOSIMIYYAH sebagai tafaulan kepada R. Qosimi (Sunan Drajat) didirikan oleh BANGSA INDONESIA atas prakarsa  KH. Muhammad Munawwir al-Qosimi dan kemudian menjadi "Pesantren Modern al-Qosimiyyah".

Badan Hukum

Pesantren Modern al-Qosimiyyah berada dibawah naungan Yayasan Sunan Drajat  Sejahtera dengan notaries Ny. Fenny Sulidafarti, SH dengan akta Pendirian Tanggal, 24 September 2010 dan berita acara tgl, 03 November 2010 

Perintisan dan Operasional

Dirintis  pada tanggal 12 Robi’ul Awal 1413 (25 Pebruari 2010) dengan ditandai penggalian pondasi Pendopo Sunan Drajat dengan mendapaatkan Izin Operasional, 09 Desember 2010 dengan ditandai SK Kepala Kantor Kementerian agama Kabupaten Bogor Kd.10.01/5/PP.007/1166/2010 sebagai Pondok Pesantren terdaftar dengan nama PONDOK PESANTREN AL-QOSIMIYYAH dengan nomor statistik :510032010853

Pada tanggal 12 Robiul Awal 1434 (24 Januari 2013) diperbarui oleh KH. Muhammad Munawwir al-Qosimi dengan nama Pesantren Modern al-Qosimiyyah untuk menggabung system pendidikan salaf, tahfizul qur’an, thoriqoh dan modern

Kedudukan

Di  Kp. Tajur RT 01/04 desa Pemagarsari Kec, Parung Kab. Bogor Propinsi Jawa Barat dan dapat membentuk perwakilan/cabang jika diperlukan untuk kepentingan Dakwah Islamiyah.

Aqidah, Madzhab Dan Thoriqoh

Pesantren ini beraqidah Islam menurut faham Ahlussunah Wal Jama’ah yang dibangun oleh Abu Hasan Ali bin Ismail al Asy’ari dan Abu Manshur al Maturidi. Mengikuti salah satu madzhab fiqh yang empat, yaitu Maliki, Hanafi, Syafi’i atau Hanbali. Berthoriqoh Qodiriyyah wan Naqsyabandiyyah yang dibangun oleh Syekh Abdul Qodir al-Jailani dan Syekh Muhammad Bahauddin an-Naqsyabandi. Guru dan santri di pesantren ini tidak diwajibkan untuk mengikuti baiat thoriqoh Qodiriyyah wan Naqsyabandiyyah 

 

 
   
   
     
 
Pesantren Modern al-Qosimiyyah
Jl. Kp. Tajur, RT/RW 01/04 Pemagarsari - Parung - Bogor (0251) 8615664 - 085692891477
Email : info@alqosimiyyah.com
 
 
 
 
 
www.alqosimiyyah.com